Dia hadir. Lagi, tanpa salam dan permisi. Sudah hampir setahun dia tak mengunjungiku. kini dia datang kembali, meskipun dia tahu kehadirannya tak pernah kuharapkan. Tapi dia acuh dan tetap menyapaku dalam diam. Dia bilang hanya mampir, sebentar? tanyaku. Dia hanya diam, lagi-lagi diam dan diam.
Ok, aku coba menerimamu, karena aku sadar memang aku tak bisa menolakmu. Aku coba mengenalimu, tapi sungguh sulit, dua kali kau menghampiriku, tapi tetap aku tak pernah bisa mengenalmu, kau begitu asing, begitu jauh, begitu pongah untuk kudekati. Kenapa kau tak pernah biarkan aku mengenalmu, memberiku kesempatan untuk menyelamimu, kau hanya mengijinkanku mengenal rasa takut dan hampa dalam kapasitas berlebihan. Kadang ingin sekali bisa menangis, seperti seorang temanku yang mudah sekali tersentuh dan meneteskan air mata. Tapi aku ga bisa, aku terlalu takut untuk menangis.
Menunggu gelap dan senyap menjemput, saat hanya ada aku dan ‘duniaku’, kucoba bertanya pada diriku, pada mata hatiku, dan….Hi! kucoba menyapamu hangat dan tersenyum manis, tapi kamu tetap diam! Huh! diam lagi.
Diammu selalu menyiratkan aura negatif, tanpa pernah bisa kuubah jadi positif. Ku coba melawanmu, tapi kamu terlalu kuat. Sering aku bertanya-tanya siapa sih gurumu? Apakah dia tak pernah memberimu wejangan bahwa membuat orang lain kacau benar2 sebuah tindakan yang kurang ajar!
Tapi apapun dan siapapun kamu, kamu udah berhasil buat aku kacau bbrp hari ini, aku ngaku kalah, (dua kali kalah), tapi ini belum final. Aku akan terus mencari ‘mu’, menembusmu dan membentengi diriku lebih kuat dari saat ini. Meskipun aku sangat berharap kau tak akan datang lagi padaku.
