April 20th, 2010
Tawa kegirangan, teriakan bocah, musik anak-anak, terdengar hiruk pikuk di telinga dan memaksa saya melangkah ke depan rumah untuk melihat asal keramaian instan tersebut. Ternyata keponakan saya yang baru berusia 17 bulan sedang naik odong-odong yang diparkir di teras rumah.
Dengan wajah riang, senyum lebar, liur menetes, dan kadang juga ekspresi ketakutan saat kakinya lepas dari pijakan, ponakan saya tampak begitu menikmati odong-odong sementara tukang odong-odong terlihat cukup lelah sambil sesekali menyeka peluh di dahi.
Sambil melihat tingkah ponakan yang kegirangan dan berayun naik turun di salah satu mainan odong-odong berbentuk bebek, saya ngobrol-ngobrol dengan tukang odong-odong yang tengah mengayuh sambil mengipas-ngipas badan dengan topinya. Read the rest of this entry »
Tags: keponakan, odong-odong
Posted in Bazzberry, MyDay | 2 Comments »
March 26th, 2010
Belakangan ini saya sedang membaca buku Like the Flowing River-nya Paulo Coelho yang saya beli di Periplus saat perjalanan pulang ke Malang. Saya membaca beberapa bab di buku setebal 245 halaman ini dengan gaya suka-suka. Maksudnya dari halaman 1 bisa loncat ke halaman 17, 23, bahkan 147, ya seenaknya saja bacanya. Lebih suka membaca judul yang sekiranya menarik lalu lanjut ke inti ceritanya. Buku ini memang tak seperti buku-buku Coelho yang lain, karena hanya mengisahkan kecil yang menginspirasi Coelho sebelum menulis buku dan setiap babnya mengusuh tema yang berlainan.
Ada satu kisah kecil yang menarik dan jadi bab yang pertama kali saya baca membaca buku ini di bandara sambil menunggu pesawat take-off. Judulnya The Story of The Pencil, dengan pelaku seorang bocah dan neneknya. Read the rest of this entry »
Tags: jakarta, jjf, paulo coelho, pensiil
Posted in Baca-Baca, Bazzberry, Jalan-Jalan | No Comments »
March 25th, 2010
Musik adalah bahasa universal yang menyatukan individu lintas profesi, generasi dan nasib. Jadi tak heran jika di setiap event musik berskala akbar, beragam kepentingan terkait nasib hidup tumplek blek di satu area. Ya, seperti halnya gelaran JJF 2010 lalu, banyak pedagang makanan, kaos, tukang parkir, taksi, calo tiket, berebut mencari pelanggan.
Salah satunya yang mencuri perhatian saya adalah kerak telor. Setiap lewat pedagang kerak telor mata saya selalu tak bisa lepas dari jajanan gepeng yang dibakar di atas tungku ini. Akhirnya di hari terakhir saya menyempatkan diri membeli kerak telor di luar area JExpo Kemayoran. Ada cukup banyak pedagang kerak telor malam itu, dan saya memilih pedagang kerak telor yang berada tak jauh tempat saya berdiri yaitu Pedagang Kerak Telor Kelompok Bapak Omas Depan Lapak Kios C-7 No: 38.
Selintas saya berpikir, panjang sekali nama dagangannya, tak seperti pedagang kaki lima di kota saya yang biasanya hanya menulis 3-4 kata saja untuk melabeli dagangan mereka. Untung antrian kerak telor tak sepanjang tulisan nama dagangan yang terpasang di bagian atas rombong rotan mengingat saya sudah cukup lapar. Read the rest of this entry »
Tags: jakarta, jjf, kerak telor
Posted in Bazzberry, Jalan-Jalan, MyDay | No Comments »
March 23rd, 2010
Jazz? bagaimana cara menikmatinya? bagaimana mencerna apa yang ditangkap telinga dan menjalinnya menjadi sebuah musik yang renyah di hati dan otak. Mengapa jazz hanya terdengar sebagai improvisasi nada-nada tanpa bisa membuat saya menghentakkan kaki atau menggoyangkan tubuh dan membuat libido musik saya meningkat. Saya masih belum bisa menikmati jazz secara utuh karena bagi saya terlalu sulit untuk dicerna.
Tapi semua anggapan itu terhapus saat awal Maret lalu saya terbang ke Jakarta untuk menghadiri perhelatan akbar musik Java Jazz 2010, atau lebih populer dengan nama JJF 2010, yang tahun ini mengambil tema Jazzin up Remarkable Indonesia. Read the rest of this entry »
Tags: jakarta, jazz, jjf
Posted in Jalan-Jalan | 2 Comments »
February 19th, 2010
Seorang rekan kerja bertanya, siapa aktor Indonesia yang paling seksi, yang badannya bisa membuat wanita ngiler dan bahkan lumer. Bagi saya, istilah seksi itu relatif, bisa dari body, otak, attitude, moral dan isi kantong. Nah, tapi akan jadi sulit saat kelima syarat itu ditujukan untuk pesohor. Jika dipaksa memilih, mungkin saya akan memilih 5 orang pesohor yang menurut saya cukup seksi, dalam kapasitas saya sebagai pengamat (bukan hardly-fans), dan kewajiban membantu rekan kerja saya: Read the rest of this entry »
Tags: pria, seksi
Posted in MyDay | No Comments »
January 18th, 2010
Saya bukan orang Blitar, tapi jika ditanya makanan yang selalu membuat kangen Blitar, tanpa ragu saya akan menjawab Uceng, es pleret plus soto mbok Ireng. Ya tiga makanan yang hampir selalu saya sambangi saat saya berkunjung ke Blitar, selain mencicipi es betet khas Blitar.
Mungkin uceng tak sepopuler belut, wader atau lele yang kerap dijumpai di berbagai kota. Tapi uceng khas Blitar ini yang mengenalkan ikan kali lebih dari sekedar kudapan bergizi. Kali pertama saya mengenal uceng saat mampir ke warung Anda di daerah Bence, Garum. Warung yang sering saya singgahi saat perjalanan pulang ke Malang ini menyediakan masakan rumahan dengan menu andalan uceng dan udang sungai yang dimakan bersama nasi, sayur atau hanya sebagai cemilan saja. Read the rest of this entry »
Tags: blitar, ikan, uceng
Posted in Jalan-Jalan | 1 Comment »
December 7th, 2009
Bagi sebagian orang pasar tradisional adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli, tempat kucing berburu sarapan, tempat petugas kebersihan menimbun sampah, tempat bertanah becek yang membuat ibu-ibu bersandal hak tinggi menggerutu hanya karena hak sandal mereka tenggelam di tanah lembek. Pasar juga jadi forum debat pedagang tempe, tape, jamur, singkong untuk sekedar ngobrol masalah politik dan lingkup terkaitnya. Pasar pun bisa jadi tempat yang ideal bagi pegawai toko sandang dan pembantu RT, saling jatuh cinta (eh, kalau yang ini pengalaman tetangga saya). Apapun bisa terjadi di pasar, sebuah tempat yang memang menjadi ujung pangkal penawaran dan permintaan beragam aktivitas hidup kita.
Tentu saya ga akan ngobrol tentang pasar, tapi lebih tentang seorang ibu yang saya jumpai di pasar dekat rumah beberapa waktu lalu. Saya tak akan menyebut beliau kurang waras, atau gila, karena terdengar kasar bagi saya. Tapi saya lebih memilih menyebut beliau kurang tahan dengan cobaan hidup. Bisa jadi hutangnya banyak, ditinggal selingkuh suami, feeling distraught for being old, dan beragam problema lain yang ga seorang pun tahu kecuali keluarganya sendiri. Read the rest of this entry »
Tags: manusia, pasar, resiliansi
Posted in MyDay | 4 Comments »
November 21st, 2009
Ada yang salah dengan kaki saya? Kenapa dengan kaki? Sebuah pertanyaan balik yang kerap saya lontarkan pada teman-teman saya yang sering kali bertanya tentang image kaki yang saya pasang di berbagai avatar messenger, email, maupun jejaring sosial.
Ya, dibanding potret diri, saya lebih suka memotret kaki terbungkus sepatu dan kaos kaki. Tidak ada yang aneh bagi saya, hanya terasa unik dan senang melihat kaki yang telah menemani langkah saya selama hampir 30 tahun lebih. Saat bepergian saya tak pernah melewatkan memotret kaki saya, setidaknya sebuah penghargaan bagi dua anggota badan paling bawah ini setelah lelah menopang berat tubuh saya yang memang tidak proporsional.
Bagi saya, kaki adalah sahabat setia yang telah membantu saya beraktivitas mulai dari membuka mata sampai menutup mata. Kaki juga menjadi bagian penting dari secuil kisah hidup saya, yang membawa saya belajar merangkak sampai belajar menendang orang. Read the rest of this entry »
Tags: kaki, manusia
Posted in MyDay | 2 Comments »
November 18th, 2009
Siang cukup terik, udara bercampur pekat asap belerang tak menyurutkan langkah Pak Shodiq untuk terus memikul sekeranjang penuh belerang dari bibir kawah Ijen menuju lereng kawah dengan kemiringan sekitar 60-90 derajat. Jalan setapak kecil yang penuh batu tak menyurutkan langkahnya untuk sampai tujuan, sambil sesekali berhenti dan mengelap peluh di dahi.
Ayunan keranjang yang berderit-derit di atas bahunya terdengar harmonis di antara dinginnya angin gunung Ijen saat Minggu lalu saya dan beberapa kawan berkunjung ke gunung yang terletak di kawasan Bondowoso ini. Tak banyak yang bisa saya ceritakan dari perjalanan ini, karena pasti ada rasa senang, capek dan puas karena bisa lepas dari rutinitas untuk sejenak.
Saya lebih senang bisa bercerita tentang Pak Shodiq, salah satu dari ratusan ‘manusia belerang’ yang mendulang rejeki dari panasnya kawah Ijen. Sebuah pekerjaan sederhana namun penuh resiko mulai dari saat mereka berangkat sampai pulang bekerja.
Tidak banyak yang saya dapat dari Pak Shodiq yang menemani saya melepas lelah di salah satu jalan setapak menuju arah pulang. Dengan kaos biru bernoda jelaga dan sedikit gosong di sana-sini, pria berusia 45 tahun ini dengan akrab bertutur tentang pekerjaan hariannya. Dengan senyum ramah dan logat Madura yang kental bapak dua anak ini mengawali kisahnya sebagai buruh angkut belerang sejak tahun 1991 menggantikan ayahnya yang sudah tua dan tak mungkin lagi mengangkut belerang. Pak Shodiq melanjutkan kerja ayahnya yang kala itu telah bergabung dengan penambangan sejak mulai awal didirikan yaitu sekitar tahun 1967, dengan upah masih 10rp per kg-nya. Read the rest of this entry »
Tags: ijen, kawah, manusia
Posted in Keringetan | 2 Comments »
October 19th, 2009
Tidak pernah terpikirkan sebelumnya dalam benak saya untuk menitipkan sepeda pada orang yang tidak saya kenal, tapi hampir setiap hari saya melakukan hal itu. Ya, kasarannya saya parkir sepeda. Tidak gratisan sih, tapi harus membayar sekitar 500 – 1000 rupiah untuk sekali titip sepeda atau bisa jadi 2000 jika saya juga nitip helm.
Tapi tidak masalah jika saat saya mengambil sepeda, si tukang parkir membantu menarik sepeda saya yang kadang posisinya terhimpit dengan sepeda² di sebelahnya dan cukup menyulitkan saya. Sayangnya tidak semua tukang parkir memiliki kepedulian kepada pelangganya. Ada kalanya mereka justru duduk ngobrol dengan teman mereka dan membiarkan pelanggan susah payah mengeluarkan sepeda miliknya. Read the rest of this entry »
Tags: manusia, parkir
Posted in MyDay | 3 Comments »